Peserta didik mampu merancang strategi mitigasi struktural, non-struktural, dan mengapresiasi kearifan lokal tanggap bencana.
Materi pokok & uraian konsep pembelajaran
Secara geografis dan geologis, kepulauan Indonesia berada di kawasan *Ring of Fire* Pasifik dan sabuk seismik aktif dunia, menjadikannya laboratorium alam dengan kerentanan tinggi terhadap bencana geologis (gempa tektonik/vulkanik, tsunami, erupsi gunung api, likuifaksi) dan bencana hidrometeorologis (banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, puting beliung).
Manajemen penanggulangan bencana bertumpu pada formula risiko: $\text{Risiko} = \frac{\text{Bahaya } (H) \times \text{Kerentanan } (V)}{\text{Kapasitas } (C)}$. Untuk menekan risiko korban jiwa dan kerugian materiil, upaya mitigasi berfokus pada peningkatan kapasitas kesiapsiagaan masyarakat dan pengurangan kerentanan fisik/sosial.
Siklus kebencanaan mencakup tiga fase terpadu: Tahap Pra-Bencana (mitigasi struktural/non-struktural, jalur evakuasi, *early warning system*), Tahap Tanggap Darurat (SAR pencarian korban, logistik pengungsian), serta Tahap Pasca-Bencana (rehabilitasi psikososial dan rekonstruksi bangunan tahan gempa *Build Back Better*). Kearifan lokal seperti budaya *Smong* di Pulau Simeulue terbukti ampuh menyelamatkan ribuan nyawa dari gelombang tsunami.
Peta subtopik bahasan
Jenis dan Karakteristik Bencana Geologis di Indonesia
Menganalisis mekanisme gempa subduksi megathrust, zona bahaya gunung api, dan likuifaksi tanah.
Jenis dan Karakteristik Bencana Hidrometeorologis
Menelaah pengaruh anomali iklim El Niño/La Niña, banjir rob pesisir, dan longsor lereng gundul.
Siklus Manajemen Bencana: Pra, Tanggap Darurat, dan Pasca-Bencana
Pemanfaatan Teknologi (InaRISK/BMKG) dan Kearifan Lokal Mitigasi (Smong)
Mengkaji sistem peringatan dini tsunami InaTEWS dan tradisi adat penyelamatan bencana alam.
Istilah kunci dan glosarium
Mitigasi Bencana
Serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik (struktural) maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman (non-struktural).
Likuifaksi (Pencairan Tanah)
Fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah berpasir jenuh air akibat getaran gempa bumi kuat sehingga tanah berperilaku seperti cairan lumpur hisap.
Kearifan Lokal Smong
Pengetahuan tradisional masyarakat Simeulue Aceh yang mengajarkan bahwa setelah gempa kuat dan air laut surut, masyarakat harus segera lari ke tempat tinggi untuk menyelamatkan diri dari tsunami.
Siklus Penanggulangan Bencana
Tahapan penanganan bencana yang berkesinambungan mencakup fase pra-bencana (pencegahan/mitigasi), fase tanggap darurat, dan fase pasca-bencana (pemulihan).
Build Back Better
Prinsip rekonstruksi pascabencana untuk membangun kembali fasilitas fisik dan sistem sosial menjadi lebih tangguh dan tahan terhadap potensi bencana di masa depan.
5 butir instrumen soal pilihan ganda berbasis HOTS untuk mengukur pemahaman konsep pada bab ini. Dilengkapi kunci jawaban dan uraian pembahasan analitis.
Soal 1
Tradisi kearifan lokal masyarakat Pulau Simeulue di Aceh yang terbukti sangat efektif menyelamatkan ribuan warga saat bencana tsunami Samudra Hindia 2004 dinamakan kearifan...
A. Smong
B. Subak
C. Nyabuk Gunung
D. Pela Gandong
Lihat Kunci Jawaban & Pembahasan
Kunci Jawaban: Pilihan A
Pembahasan: Kearifan 'Smong' dituturkan turun temurun: jika terjadi gempa kuat disusul surutnya air laut, segera lari ke perbukitan tinggi.
Soal 2
Fenomena hilangnya kepadatan dan kekuatan lapisan tanah berpasir yang jenuh air akibat guncangan gempa bumi kuat sehingga bangunan ambles tenggelam seperti di Petobo Palu disebut...
A. Likuifaksi (Pencairan Tanah)
B. Vulkanisme efusif
C. Erosi aluvial
D. Abrasi pantai
Lihat Kunci Jawaban & Pembahasan
Kunci Jawaban: Pilihan A
Pembahasan: Likuifaksi terjadi saat tekanan air pori meningkat drastis akibat gempa, mengubah tanah padat menjadi lumpur cair.
Soal 3
Contoh tindakan 'Mitigasi Non-Struktural' dalam penanggulangan risiko bencana alam gempabumi adalah...
A. Penyusunan peta rawan bencana, sosialisasi simulasi evakuasi rutin bagi siswa, dan penegakan regulasi tata ruang wilayah
B. Pembangunan dinding penahan ombak pemecah gelombang beton
C. Pemasangan tiang pancang baja tahan gempa
D. Pembangunan bendungan waduk pengendali banjir
Lihat Kunci Jawaban & Pembahasan
Kunci Jawaban: Pilihan A
Pembahasan: Mitigasi non-struktural menitikberatkan pada regulasi kebijakan tata ruang, edukasi kesiapsiagaan, SOP, dan pelatihan masyarakat.
Soal 4
Rumus estimasi tingkat risiko bencana secara ilmiah dirumuskan sebagai perbandingan...
B. $\text{Risiko} = \text{Bahaya} + \text{Kerentanan} + \text{Kapasitas}$
C. $\text{Risiko} = \frac{\text{Kapasitas}}{\text{Bahaya } \times \text{Kerentanan}}$
D. $\text{Risiko} = \text{Bahaya } \times \text{Kapasitas}$
Lihat Kunci Jawaban & Pembahasan
Kunci Jawaban: Pilihan A
Pembahasan: Risiko berbanding lurus dengan ancaman bahaya (hazard) dan kerentanan (vulnerability), serta berbanding terbalik dengan kapasitas kesiapsiagaan (capacity).
Soal 5
Tindakan penyelamatan diri yang paling tepat saat kita sedang berada di dalam ruang kelas lantai dua ketika terjadi gempa bumi kuat mendadak adalah...
A. Melindungi kepala di bawah kolong meja yang kokoh (*Drop, Cover, and Hold On*) dan tidak panik berebut tangga sebelum guncangan reda
B. Langsung melompat keluar dari jendela lantai dua
C. Berdiri diam di samping lemari kaca yang tinggi
D. Menggunakan lift gedung sekolah untuk turun cepat
Lihat Kunci Jawaban & Pembahasan
Kunci Jawaban: Pilihan A
Pembahasan: Protokol standar gempa: lindungi kepala di bawah meja kokoh (*Drop, Cover, Hold On*) hingga guncangan berhenti, lalu evakuasi via tangga darurat.
Instrumen evaluasi lengkap, lembar kerja peserta didik (LKPD), dan rubrik penilaian sumatif tersedia di dalam paket berkas perangkat ajar di bawah ini.